Mengapa Terjadi Perceraian

MENGAPA TERJADI PERCERAIAN

( Dewi Harastuti – Pengacara Cerai Semarang )

Sering kita membaca dan atau mendengar di media bahwa tingkat perceraian di negeri ini semakin lama semakin meningkat, terutama gugatan perceraian yang diajukan ke  Pengadilan Agama. Menurut Pasal 38 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974, perkawinan dapat putus karena : a) kematian, b) perceraian, dan c) atas keputusan Pengadilan.

Perceraian dapat terjadi dan menimpa   siapa saja. Mengenai  pengajuan gugatan atau permohonan perceraian dapat dilakukan oleh siapa saja, baik oleh suami ataupun istri. Bagi yang beragama Islam gugatan atau permohonan perceraian diajukan ke Pengadilan Agama, sedangkan bagi yang beragama lain gugatan perceraian diajukan ke Pengadilan Negeri. Untuk melakukan perceraian harus ada cukup alasan, bahwa antara suami isteri yang sudah beberapa tahun menikah dan terkadang sudah dikaruniai anak ,  tidak akan dapat hidup rukun lagi sebagai suami isteri.

pengacara cerai semarang

Banyak alasan/penyebab mengapa  seorang suami dan / atau seorang isteri  mengajukan gugatan  perceraian ke Pengadilan, antara lain :

  1. sudah tidak ada kecocokan antara suami isteri,
  2. masalah ekonomi yang menimpa keluarga,
  3. perselingkuhan yang dilakukan baik oleh suami ataupun isteri,
  4. kekerasan dalam rumahtangga yang umumnya dilakukan oleh suami,
  5. dalam berumahtangga tidak memiliki keturunan,
  6. perbedaan keyakinan, dsb.

Dalam mengajukan gugatan perceraian ke Pengadilan, alasan-alasan diajukannya gugatan perceraian itu perlu disampaikan oleh Penggugat.

Bahwa sebagaimana tertuang dalam Pasal 19 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 bahwa perceraian dapat terjadi karena alasan atau alasan-alasan :

  1. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabok, pemadat, penjudi, dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan.
  2. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2(dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak yang lainnya tanpa alasan yang syah atau karena hal lain diluar kemampuannya.
  3. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung.
  4. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak yang lain.
  5. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami/isteri.
  6. Antara suami dan isteri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.

Apabila Saudara sedang menghadapai masalah rumahtangga dan berniat mengajukan gugatan  perceraian, Konsultasikan permasalahan Saudara dan kami siap membantu.  Hubungi : 081 22826112 (Pengacara Cerai Semarang)

 

Sedangkan menurut Kompilasi Hukum Islam pasal 116 perceraian dapat terjadi karena alasan atau alasan alasan :

  1. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabok, pemadat, penjudi, dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan.
  2. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2(dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak yang lainnya tanpa alasan yang syah atau karena hal lain diluar kemampuannya.
  3. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung.
  4. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak yang lain.
  5. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami atau isteri.
  6. Antara suami dan isteri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.
  7. Suami melanggar taklik talak .
  8. Peralihan Agama atau murtad yang menyebabkan terjadinya ketidak rukunan dalam rumah tangga.

Sesuai Kompilasi Hukum Islam bahwa putusnya perkawinan yang disebabkan karena perceraian dapat terjadi karena talak atau berdasarkan gugatan perceraian.

Perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang Pengadilan Agama,  setelah Pengadilan Agama tersebut berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *